Rekonstruksi Kerangka 5A untuk Destinasi Wisata Perkotaan di Indonesia, Menempatkan Keterlibatan Komunitas sebagai Komponen Inti
Kata Kunci:
Rekonstruksi Kerangka 5A, Destinasi, Wisata Perkotaan, Indonesia, KomunitasAbstrak
Kerangka 5A yang mencakup atraksi, amenitas, aksesibilitas, ansilari, dan keterlibatan komunitas telah menjadi alat baku dalam perencanaan destinasi wisata perkotaan di Indonesia. Kerangka ini dipakai dalam penyusunan rencana induk pembangunan kepariwisataan daerah, dalam penilaian kesiapan destinasi, dan dalam banyak penelitian akademis. Persoalannya, kelima komponen itu hampir selalu diperlakukan sebagai daftar yang sejajar dan dapat dijumlahkan. Konsekuensinya, keterlibatan komunitas kerap ditempatkan pada urutan terakhir, dinilai dengan indikator yang paling lemah, dan diperlakukan sebagai pelengkap dari empat komponen fisik yang mendahuluinya. Artikel konseptual ini mengajukan rekonstruksi terhadap cara kerangka tersebut dibaca. Melalui telaah pustaka integratif atas literatur pariwisata perkotaan mutakhir dan pembacaan ulang terhadap sejumlah kasus destinasi perkotaan di Indonesia, artikel ini berargumen bahwa keterlibatan komunitas bukanlah komponen kelima yang sejajar, melainkan komponen konstitutif yang menentukan apakah empat komponen lainnya bekerja atau tidak. Rekonstruksi ini dituangkan dalam Model 5A Konsentris, yang menempatkan komunitas sebagai inti dan empat komponen lain sebagai lapisan operasional yang mengelilinginya. Artikel mengidentifikasi empat mekanisme yang menjelaskan hubungan konstitutif tersebut, yaitu kepemilikan makna, kapasitas pemeliharaan, legitimasi sosial, dan distribusi manfaat. Empat mekanisme ini kemudian diturunkan menjadi seperangkat indikator yang dapat dipakai dalam penilaian kesiapan destinasi. Artikel juga menegaskan batas keberlakuan model, karena tidak semua tipe destinasi perkotaan memiliki komunitas pemangku yang jelas. Kontribusi artikel bersifat konseptual dan metodologis sekaligus, karena selain menawarkan penataan ulang kerangka, artikel ini juga mengusulkan cara mengukur komponen komunitas secara lebih tegas daripada praktik yang berlaku selama ini.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Jurnal GARUDA: Jurnal Ekonomi, Sosial, Politik, Hukum, dan Humaniora

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.